<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Samudera Mimpi ...</title>
	<atom:link href="http://puji.melesat.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://puji.melesat.com</link>
	<description>Puji Arya Yanti</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Apr 2012 04:54:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Apakah Arsip Itu?</title>
		<link>http://puji.melesat.com/apakah-arsip-itu/</link>
		<comments>http://puji.melesat.com/apakah-arsip-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Mar 2011 18:50:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puji</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puji.melesat.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Ketika pertanyaan itu saya ajukan, Raka, teman saya menjawab, “sesuatu yang disimpan”. “Sesuatu” apakah yang dimaksud? Karena “sesuatu” itu bisa berarti apa saja. Jika kata “sesuatu” diganti dengan mangga, maka arsip adalah mangga yang disimpan. Jika kata “sesuatu” diganti dengan kertas, maka arsip adalah kertas yang disimpan. Lalu, apakah sebenarnya arsip itu? Arsip berasal dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika pertanyaan itu saya ajukan, Raka, teman saya menjawab, “sesuatu yang disimpan”. “Sesuatu” apakah yang dimaksud? Karena “sesuatu” itu bisa berarti apa saja. Jika kata “sesuatu” diganti dengan mangga, maka arsip adalah mangga yang disimpan. Jika kata “sesuatu” diganti dengan kertas, maka arsip adalah <span id="more-224"></span>kertas yang disimpan. Lalu, apakah sebenarnya arsip itu?</p>
<p>Arsip berasal dari bahasa Yunani, yaitu “Archea”, yang kemudian berubah menjadi “Archeon”,  artinya catatan atau dokumen mengenai masalah pemerintah.  Dalam buku berjudul Administrasi Perkantoran, The Liang Gie menyebutkan, arsip adalah warkat yang disimpan secara teratur, berencana, karena mempunyai suatu kegunaan dalam rangka pelaksanaan kehidupan kebangsaan. </p>
<p>Menurut Undang-undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan, pengertian arsip adalah rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, pemerintahan daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat , berbangsa, dan bernegara.</p>
<p>Arsip menurut fungsinya dibagi menjadi arsip dinamis dan arsip statis. Arsip dinamis dibagi lagi menjadi arsip dinamis aktif dan arsip dinamis in aktif. Yang membedakannya adalah frekuensi penggunaan arsip. Arsip dinamis aktif artinya arsip yang frekuensi penggunaannya tinggi dan/atau terus menerus. Untuk arsip dinamis in aktif, berarti arsip yang frekuensi penggunaannya telah menurun.</p>
<p>Sedangkan arsip statis berarti arsip yang yang dihasilkan oleh pencipta arsip karena memiliki nilai guna kesejarahan , telah habis retensinya, dan berketerangan dipermanenkan yang telah diverifikasi baik secara langsung maupun tidak langsung oleh Arsip Nasional Republik Indonesia dan/atau lembaga kearsipan.  </p>
<p>***<br />
Nah, itulah jawaban dari pertanyaan “Apakah Arsip Itu?” Pertanyaan selanjutnya mengenai kearsipan, arsiparis, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan arsip. Semoga ada kesempatan lagi untuk membaginya <img src='http://puji.melesat.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puji.melesat.com/apakah-arsip-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ariel pun Seorang Manusia</title>
		<link>http://puji.melesat.com/ariel-pun-seorang-manusia/</link>
		<comments>http://puji.melesat.com/ariel-pun-seorang-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Feb 2011 16:16:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puji</dc:creator>
				<category><![CDATA[RENUNGAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puji.melesat.com/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[Memang tidaklah pantas, perbuatan yang telah (dituduhkan) dilakukan Ariel. Perbuatan yang hukumnya hanya dilakukan oleh pasangan yang terikat dalam sakralnya sebuah pernikahan. Pula, seharusnya dilakukan bukan untuk konsumsi publik. Namun, apa dikata, semua telah terjadi. Seseorang telah mengunggah rekaman itu ke belantara maya, yang siapa pun dapat menjangkaunya, entah untuk kepuasan diri atau termakan derasnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Memang tidaklah pantas, perbuatan yang telah (dituduhkan) dilakukan Ariel. Perbuatan yang hukumnya hanya dilakukan oleh pasangan yang terikat dalam sakralnya sebuah pernikahan. Pula, seharusnya dilakukan bukan untuk konsumsi publik. Namun, apa dikata, semua telah terjadi. Seseorang telah mengunggah rekaman itu ke belantara maya, yang siapa pun dapat menjangkaunya, entah untuk kepuasan diri atau termakan derasnya pemberitaan yang mau tidak mau membawanya mengikuti, supaya tidak dibilang ketinggalan informasi.</p>
<p>Ribuan caci maki penduduk negeri telah dihujankan padanya. Belum lagi hinaan, cemoohan, dan semua hal buruk yang orang bilang pantas disandangkan padanya. Dan kini, Ariel dalam penantiannya.<span id="more-212"></span> Dia menunggu hukum manusia yang akan menjeratnya. Tidak bisa dipastikan apakah dia menyesali perbuatannya, atau bahkan ingin lari dari apa yang telah dituduhkan padanya. Hanya dia seoranglah yang tahu, dan Tuhannya.</p>
<p>Ariel (mungkin) memang telah melakukan kesalahan. Perbuatannya berdampak buruk pada moral generasi bangsa. Malahan, dari pemberitaan media, video mesumnya meningkatkan tindakan kriminal dan asusila. Tidaklah mengherankan bila kini banyak orang mengawal perjalanan persidangannya. Banyak orang yang menamakan dirinya pembela anti kemaksiatan menginginkan hukuman setimpal untuknya. Banyak orang yang tidak ingin melepaskannya dari hukum yang menurut mereka pantas diberikan padanya. Tidak bisa dihindari, jika Ariel terbukti bersalah, maka hukuman wajib diberikan padanya sesuai undang-undang negara yang berlaku. Ariel pun pasti bisa memahaminya.</p>
<p>Tulisan ini tidak untuk membenarkan perbuatannya. Tapi, ketika saya melihat tayangan persidangannya di televisi &#8212; perlakuan orang-orang yang mendemonya. Hanya ingatlah, Ariel tetaplah seorang manusia. Manusia ciptaan Tuhan. Manusia yang mempunyai hati dan perasaan. Saya bukan fans berat Ariel. Saya juga bukan kerabatnya. Saya memang tahu Ariel, tapi saya tidak mengenalnya. Saya adalah sesamanya, sesama manusia, manusia ciptaan Tuhan.</p>
<p>Saya teringat, seperti halnya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah, yang dibawa ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi kepada Tuhan. Saya rasa, Ariel juga ingin mendapatkan pengampunan itu &#8212; pengakuan bahwa dia seorang manusia, dari Tuhan dan juga Anda, yang ternyata juga seorang manusia.</p>
<p>Pay &#8212; 24/1/11 – 11.24</p>
<p>“…, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: &#8220;Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.&#8221; (Yoh. 8:7)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puji.melesat.com/ariel-pun-seorang-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Si Senyum Gelas Pecah</title>
		<link>http://puji.melesat.com/si-senyum-gelas-pecah/</link>
		<comments>http://puji.melesat.com/si-senyum-gelas-pecah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Feb 2011 16:14:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puji</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puji.melesat.com/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[Teman-teman bilang, kamu orangnya menyebalkan, pelupa pula. Katanya, kamu tidak bisa mengingat jadwal kuliah. Tidur saja yang kamu suka dan paling susah kalau dibangunkan. Aku pernah juga mendengar teman sekamarmu mengeluh tentang hal itu. Awalnya kamu tidak seperti itu. Kabar yang beredar itu efek dari obat terlarang. Kita menimba ilmu di tempat yang sama, tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teman-teman bilang, kamu orangnya menyebalkan, pelupa pula. Katanya, kamu tidak bisa mengingat jadwal kuliah. Tidur saja yang kamu suka dan paling susah kalau dibangunkan. Aku pernah juga mendengar teman sekamarmu mengeluh tentang hal itu. Awalnya kamu tidak seperti itu. Kabar yang beredar itu efek dari obat terlarang.</p>
<p>Kita menimba ilmu di tempat yang sama, tapi aku tidak begitu mengenalmu. Nama lengkapmu aku tahu, aku bisa melihatnya di daftar presensi, selain itu tidak banyak hal lain yang aku ketahui tentangmu.<span id="more-210"></span></p>
<p>Aku juga tidak begitu niat dekat-dekat denganmu, bukan akibat reputasimu yang buruk, tapi memang aku kurang ada keberanian dekat-dekat denganmu. Sebenarnya kamu terlihat lumayan. Apalagi kalau kamu tersenyum, aku masih ingat, senyumanmu aku umpamakan seperti gelas yang jatuh. Pyaaar! Membuat jantung berdebar-debar.</p>
<p>Di bawah sadarku sering kali aku mencarimu kalau kamu absen. Ada rasa welas kalau aku mengingatmu. Welas karena aku menyayangkan apa yang menimpamu, kalau memang kabar itu benar. Kamu masih muda. Ada banyak hal yang bisa kamu kerjakan. Terkadang aku juga masih berharap bahwa kabar itu memang hanya kabar burung saja.</p>
<p>Puluhan tahun aku tidak bertemu denganmu. Aku coba mencarimu di situs pertemanan, tidak pula kutemukan namamu. Nama yang masih aku ingat dengan jelas. Sejelas aku mengingat hari terakhir aku bertemu denganmu. Kamu berdiri di sampingku, kita sama-sama mengurus sesuatu di ruang tata usaha. Aku diam saja, aku tidak menyapamu, aku tidak bernyali untuk melakukannya.</p>
<p>Dan, tiba-tiba kamu menyapaku, kamu bertanya alasanku mengabaikanmu. “Kamu sombong, diam saja melihatku, apa kamu lupa aku?” Aku tergagap, tersenyum membalas senyumnya yang seperti gelas pecah. Pyaar!</p>
<p>Aku tidak lupa, seperti saat ini ketika aku menuliskan ceritamu. Saat itu ada tugas yang harus dikerjakan dan materinya sudah dibagikan. Kamu tidak masuk sebelumnya jadi kamu tidak tahu menahu. Kamu berusaha meminjam materi tugas itu ke teman-teman dekatmu. Mereka tidak memedulikanmu. Kamu tanya ke teman yang lain. Sama saja. Wajahmu terlihat putus asa. Aku mendekatimu waktu itu, aku berikan bahan yang aku punya tanpa kamu minta. Kamu bilang terima kasih, ucapan yang sungguh tulus. Terlihat jelas dari raut wajahmu, rasa tidak percaya kalau aku mau membantumu. Ada kelegaan di wajahmu, masih ada yang memedulikanmu. Aku tidak mungkin melupakan kebahagiaanmu waktu itu, ekspresi yang terpancar di wajahmu.</p>
<p>Aku juga ingat, setiap seusai kuliah, ketika aku menunggu bus yang mengantarkanku ke kos, dan kamu membeli rokok di warung dekat kampus, uang kembaliannya selalu kamu belikan permen untukku. Mungkin itu bentuk terima kasihmu padaku karena pernah sekali aku memedulikanmu. Aku tidak tahu, yang aku rasakan kamu seperti seorang kakak yang baik untukku. Kamu sama sekali tidak seperti yang mereka gunjingkan.</p>
<p>Sampai saat ini aku masih menyesal karena tidak menyapamu di ruang itu. Aku tidak tahu kalau hari itu kamu mengurus pengunduran dirimu. Waktu itu kamu bilang kalau kamu cuti sebentar karena ada masalah dengan keluargamu. Aku menyesal tidak mengenalmu lebih jauh. Sungguh aku tidak tahu, kalau hari itu hari terakhir aku bertemu denganmu.</p>
<p>Aku tidak lupa sama kamu, Si Senyum Gelas Pecah, sungguh. Aku masih mengingatmu hingga saat ini. Aku juga berusaha mencarimu, tapi jejakmu bagaikan tersapu angin dan aku juga tidak tahu banyak tentangmu. Entah di mana kini kamu berada. Dalam pengharapanku, kamu berbahagia.</p>
<p>27910-pay</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puji.melesat.com/si-senyum-gelas-pecah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Madu Rasa Tawon</title>
		<link>http://puji.melesat.com/madu-rasa-tawon/</link>
		<comments>http://puji.melesat.com/madu-rasa-tawon/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Feb 2011 16:12:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puji</dc:creator>
				<category><![CDATA[AYAH BUNDA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puji.melesat.com/?p=208</guid>
		<description><![CDATA[Anak-anak memang pribadi yang unik. Mereka polos, jujur mengatakan apa yang ada di hati serta pikirannya, dan memegang teguh sesuatu yang mereka anggap benar. Seperti halnya Joska, keponakan saya, karena belum bisa membaca seringkali dia menerjemahkan benda-benda dari gambar yang menyertainya dan hal-hal yang dia lihat. Suatu hari saya mendengar dia melapor pada neneknya karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anak-anak memang pribadi yang unik. Mereka polos, jujur mengatakan apa yang ada di hati serta pikirannya, dan memegang teguh sesuatu yang mereka anggap benar. Seperti halnya Joska, keponakan saya, karena belum bisa membaca seringkali dia menerjemahkan benda-benda dari gambar yang menyertainya dan hal-hal yang dia lihat.</p>
<p>Suatu hari saya mendengar dia melapor pada neneknya karena bertengkar dengan saudara sepupunya. Jarang dua keponakan saya melakukan hal itu, mereka biasanya akur. “Ada madu rasa tawon kan, Nek! Masa Michelle tidak percaya”, adu Joska.<span id="more-208"></span></p>
<p>Apa yang dia maksud dengan madu rasa tawon? Usut punya usut ternyata dua keponakan saya ini sedang membicarakan dus tempat madu yang kemarin saya beli. Madu itu rasa stroberi. Karenanya, di dus itu terdapat gambar buah stroberi dan tawon – karena madu memang dihasilkan oleh tawon – serta tulisan yang menyatakan madu itu rasa stoberi.</p>
<p>Sekali lagi, karena belum bisa membaca, Joska ngotot kalau ada madu rasa tawon selain rasa stroberi. Dia tidak mau mendengar penjelasan sepupunya yang sudah bisa membaca karena memercayai apa yang dia lihat, yaitu gambar tawon yang ada di dus itu.<br />
Madu rasa tawon, itulah yang dikatakan Joska, memang terdengar menggelikan, tapi dia tidak bisa begitu saja disalahkan. Dialah anak-anak, di mana kepolosan dan kejujuran menjadi sifatnya. Sifat yang semakin sulit ditemukan di dunia orang dewasa, sekarang ini. Dari pernyataannya menunjukkan bahwa dia memang anak-anak. Anak-anak yang memerlukan penjelasan dan bimbingan dari orang dewasa. Penjelasan yang jujur dan benar karena itu akan menjadi bekalnya di masa yang akan datang. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puji.melesat.com/madu-rasa-tawon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Secuil Cerita Sahabat</title>
		<link>http://puji.melesat.com/secuil-cerita-sahabat/</link>
		<comments>http://puji.melesat.com/secuil-cerita-sahabat/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Feb 2011 16:11:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>puji</dc:creator>
				<category><![CDATA[CERITA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://puji.melesat.com/?p=206</guid>
		<description><![CDATA[Sahabat sejatiku, hilangkah dari ingatanmu Di hari kita saling berbagi – (Sahabat Sejati, SO7) Bercanda, tertawa bahagia itu yang biasa kami lakukan ketika kami bersama. Meski kadang kami juga mengurai air mata, tapi itu semua tidak membuat kami tercerai malah membuat kami semakin erat satu sama lain. Kami berenam, kami dipersatukan dalam sebuah kos di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sahabat sejatiku, hilangkah dari ingatanmu<br />
Di hari kita saling berbagi – (Sahabat Sejati, SO7)</p>
<p>Bercanda, tertawa bahagia itu yang biasa kami lakukan ketika kami bersama. Meski kadang kami juga mengurai air mata, tapi itu semua tidak membuat kami tercerai malah membuat kami semakin erat satu sama lain.</p>
<p>Kami berenam, kami dipersatukan dalam sebuah kos di daerah Pleburan.<span id="more-206"></span> Kebetulan kami sama-sama kuliah di Universitas Diponegoro, Semarang. Kami juga satu fakutlas, Fakultas Sastra. Kecuali Tini anak Grobogan, dia di Fakultas Fisip. Tini seorang gadis yang smart dan tegas. Kemauannya kuat, setinggi keinginannya meraih cita dan cintanya.</p>
<p>Di kos Pleburan, aku sekamar dengan Siska, anak Pati, yang cantik, enerjik, dan menyenangkan. Tak heran dia jadi primadona di jurusannnya. Jadi primadona juga bagi kami, kalau ada dia, dunia pun ikut tersenyum melihat canda tawanya.</p>
<p>Nossy, dia sekamar dengan Nining, keduanya anak Kudus. Nossy agak pendiam, matanya bulat tajam membuatnya terkesan galak ketika pertama bertemu. Sebenarnya tidak. Dia sangat halus, perasa, dan seringkali ngemong teman-temannya. Mungkin karena dia anak pertama di keluarganya.</p>
<p>Beda lagi dengan Nining. Hitam manis, berhidung bangir. Dia anak tunggal. Meski begitu dia berbeda dengan anak tunggal lainnya, dia sangat mandiri. Namun sesekali masih keliatan juga manjanya.</p>
<p>Ada juga Irna. Dia tidak satu kos dengan kami berlima, karena kos di Pleburan penuh waktu itu. Dia teman SMU-ku, juga satu jurusan kuliah denganku. Anaknya cantik, kadang pendiam tapi bisa juga cerewet. Dia tegas dan pantas menjadi pemimpin.</p>
<p>Dan, aku, apa yang bisa aku tulis tentang diriku. Malu rasanya menulis yang baik-baik tentang diri sendiri, apalagi kalau yang jelek-jelek. Yang pasti, Tini, Siska, Nossy, Nining, Irna, dan Aku. Kami berenam, kami mengaku sahabat, dan berjalannya waktu membuat kami menjadi seperti saudara.</p>
<p>Dan sampai hari ini aku berharap, kami tetap menjadi sahabat dan juga saudara.</p>
<p>26.8.10-pay</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://puji.melesat.com/secuil-cerita-sahabat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

